Sabtu, 06 Juni 2015

tugas PKMF (Esai Individu)


Mahasiswa dan Pemartabatan Diri
Oleh: Suci Sri Setiowati
Mahasiswa Jurusan Ekonomi dan Administrasi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Mahasiswa dan Permartabatan diri merupakan satuan diperlukan untuk berkonsolidasi, namun jika dilihat secara harfiah tiap satuan itu suatu realitas yang masih terpisahkan. Permartabatan diri sebagai impelemtasi dari Tridarma Perguruan Tinggi saat ini sendiri belum banyak dapat dipahami oleh para pemuda, khususnya mahasiswa.

Begitu besar semangat agar berhasil meraih derajat yang mulia.  Mencari harta, jabatan, dan bahkan juga pendidikan dengan maksud agar dirinya dihargai  dan dihormati orang lain. Demikian pula, orang membangun  rumah yang bagus, berpakaian yang baik dan indah, bertutur kata yang  tepat, semua itu lagi-lagi adalah agar yang bersangkutan dianggap bermartabat.

Bermartabat sesungguhnya  bukanlah perkara mudah. Tidak semua orang yang berhasil mendapatkan jabatan dan pendidikan tinggi  bahkan agamawan sekalipun selalu mampu menjaga martabat diri. Kemampuan menjaga diri tidak cukup berbekalkan ilmu dan pengalaman, melainkan  semua itu harus disempurnakan dengan kejernihan dan kesucian hati. Seseorang yang hatinya  bersih akan  bisa menjaga harga dirinya. Oleh karena itu, kecerdasan  intelektual saja tidak cukup.

Akan tetapi ternyata tidak semua orang sadar bahwa harga diri, derajat, prestise dan semacamnya itu perlu dipelihara secara terus menerus dan dijaga sebaik-baiknya. Akhir-akhir ini  rumah tahanan dan penjara semakin penuh. Pada setiap hari terdengar orang tertangkap basah oleh karena menyuap, korupsi, menyalah gunakan wewenang dan seterusnya, dan kemudian dipenjara,  adalah oleh karena yang bersangkutan tidak mampu memelihara dan atau menjaga harga dirinya sendiri. 

            Aspek yang sebenarnya justru penting untuk menjaga harkat dan martabat yang seringkali dilupakan dan bahkan diabaikan. Akibatnya, semua yang telah diraih dengan susah payah, seperti pendidikan, harta kekayaan,  pangkat, jabatan,  dan lain-lain  menjadi runtuh oleh karena ketumpulan hati nurani yang bersangkutan. 

Sengkarut Peran Perguruan Tinggi dalam penerapan-nya, yang sering disebut dengan Tridarma Perguruan Tinggi: pada realitasnya

Bicara mengenai dunia perguruan Tinggi tidak untuk mengatakan-ulang tuturan dosen dan menuliskan-ulang isi buku. Belajar di kampus bermici mencari kenikmatan dalam ikhtiar menjadi mahasiswa pembelajar.

Kuliah tidak mesti merewat tekanan dan ketakutan merancang masa depan. Mahasiswa tidak harus menjadi mesin agar mendapati pengetahuan secara produktif. Kampus bukan perusahaan dengan menjadikan mahasiswa sebagai asset dan digerakkan oleh aturan-aturan ekonomistik.
Permasalahan Produsen perguruan tinggi jadi produsen sarjana, para sarjana menjadi pendamba perusahan nasib, pengambinghitaman dilakukan saat sarjana tak sanggup memasuki dunia kerja dan gagal dalam mengubah nasib atas inisatif sendiri. Sikap pasif terlanjur ada dalam model pendidikan di kampus.
Resistansi produktif dan otonomi diri mahasiswa hampir punah oleh kemanjaan era digital ini dan kemalasan, kampus sebagai institusi edukasi kentara kehilangan peran dalam impian-impian penyandang kesuksesan.

Melanjutkan pendidikan di perguruan Tinggi menjadi mahasiswa, bahwa dengan demikian kita sedang merintis satu-satunya jalan untuk mencapai tingkat kesarjanaan, kesempatan ekonomis, karir, status sosial dan berbagai kehormatan lainnya, terbuka secara lebih luas bagi kita dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kesempatan. Dengan demikian usaha untuk memepercepat proses mobilitas vertikal, secara ekonomi, sosial dan kultural juga dapat diraih.

Secara sosiologis, sebagaimana di Indonesia dan Negara berkembang lainnya, menyegerakan mencapai tingkat kesarjanaan dengan mengesampingkan kenyataan bahwa betapa banyaknya sarjana yang menganggur dewasa ini.

Kita akan segera menjadi kelompok baru dari para lulusan universitas. Latar belakang sosial ekonomi Negara-negara berkembang yang pada umumnya agraris segera menempatkan kita sebagai kelompok yang teristimewakan.

Disamping sebagian pemuda seusia kita tidak berekesempatan memasuki perguruan tinggi struktur sosial yang lebih berarti bagi mereka lulusan universitas. Jadilah kita menjadi salah satu kelompok elite bangsa. Atau dalam bahasa gagahnya, the best sons of the country, “anak-anak terbaik bangsa”.

Akan tetapi apabila kita kembali pada persoalan bahwa sadar yang telah dikemukakan diatas, posisi kita sebagai mahasiswa juga mahasiswa secara umumnya mau tidak mau harus terbentur pada persoalan yang mendasar:
Apakah perguruan tinggi  yang kita tapaki pemuja sarjana? Menggerakkan selayaknya
asset?
Apakah dengan posisi kita yang istimewa itu tetap berakar secara kuat dengan lingkungan
sosiobudaya dan ekonomi yang sebelumnya melatarbelakangi kita?


Sebuah dramatisasi untuk meneguhkan kesadaran ini sangat diperlukan baik  oleh pihak perguruan tinggi maupun bagi kita, mahasiswa yang dianggap sebagai pelopor perubahan.

Dengan pertanyaan semacam ini, kita hanya ingin menyentak kesadaran posisional. Bahwa pilihan kita menjadi mahasiswa yang menduduki posisi yang istimewa tidak terasa bahwa kita telah menjadi pendukung operasi modal-modal internasional di dalam Negara kita sendiri.

Gejala ini bukan saja terlihat dari besarnya minat sebagian besar generasi muda lulusan perguruan tinggi untuk bekerja di berbagai perusahaan asing asli tetapi mereka juga telah menjadi birokrat-birokrat resmi. Lewat peraturan yang diciptakan oleh birokrat misalnya, seperti UUPA, lisensi dan izin-izin usaha, kekuatan modal Internasional mampu beroperasi secara meluas di Negara berkembang. Generasi muda mahasiswa “anak-anak terbaik bangsa”, dalam struktur semacam itu telah menjadi calon “sekerat skrup” dari mesin kapitalisme.

Pada hemat saya, inilah tantangan yang paling aktual dan paling mendesak untuk dipecahkan oleh generasi muda khsusunya mahasiswa di banyak Negara berkembang dewasa ini. Sebab keistimewaan posisional yang kita miliki sebagai orang terdidik dan calon sarjana secara langsung ataupun tidak, mendorong kita atau tepatnya, menempatkan kita ke dalam posisi pimpinan bangsa di antara mayoritas mayarakat yang tidak terdidik, di masa depan. Dengan demikian posisi yang sedang kita jalani merupakan posisi yang sangat krusial.

Kegagalan kita memahami posisi kita dalam gerak perubahan dan transformasional struktural yang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar akan menyebabkan pula kita tidak dapat memahami aspirasi rakyat banyak ketika kepemimpinan kita menjadi kenyataan. Sebab dengan gejala yang semacam ini, kemungkinan kita menjadi kelompok yang terasing ditengah-tengah mayarakat kita sendiri cukup besar. Dan dalam perspektif inilah, kecaman seperti yang telah dikemukakan diatas, mempunyai relevansi yang cukup kuat dengan kenyataan dan perkembangan generasi muda dan mahasiswa dewasa ini dan di masa depan.

Akan tetapi perlu dipahami dalam menafsirkan, bahwa pilihan kita menjadi mahasiswa, betapapun bahwa sadarnya sifatnya adalah sesuatu yang keliru. Betapapun radikalnya pemikiran seseorang, namun minat untuk menguasai pengetahuan modern tetap dianggap sebagai suatu kebutuhan mutlak. Sebab tanpa pengetahuan, justru akan semakin mencampakkan kita.

Pada kaitannya yang ingin ditekankan disini peran perguruan tinggi dan generasi muda khususnya mahasiswa, betapa perlunya memupuk kesadaran eksistensial kita sejak dini. Dengan kesadaran ini bukan saja mengelakkan kita untuk berfungsi hanya untuk sebagai skrup dari mesin modal akan tetapi juga akan dapat menempatkan diri pada lingkungan lapisan masyarakat dalam sebuah perguruan tinggi. Disamping itu juga sekaligus akan memungkinkan hasrat dan keprihatinan rakyat banyak. Dengan demikian kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan akan kita ciptakan ketika mahasiswa mampu tampil sebagai pemimpin. Lebih memihak pada rakyat banyak, bukan pada segelintir orang atau kaum pemilik modal, secara terbatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar