Mahasiswa
dan Pemartabatan Diri
Oleh: Suci Sri Setiowati
Mahasiswa Jurusan Ekonomi dan Administrasi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Jakarta
Mahasiswa
dan Permartabatan diri merupakan satuan diperlukan untuk berkonsolidasi, namun
jika dilihat secara harfiah tiap satuan itu suatu realitas yang masih
terpisahkan. Permartabatan diri sebagai impelemtasi dari Tridarma Perguruan
Tinggi saat ini sendiri belum banyak dapat dipahami oleh para pemuda, khususnya
mahasiswa.
Begitu
besar semangat agar berhasil meraih derajat yang mulia. Mencari
harta, jabatan, dan bahkan juga pendidikan dengan maksud agar dirinya
dihargai dan dihormati orang lain. Demikian pula, orang
membangun rumah yang bagus, berpakaian yang baik dan indah, bertutur
kata yang tepat, semua itu lagi-lagi adalah agar yang bersangkutan
dianggap bermartabat.
Bermartabat
sesungguhnya bukanlah perkara mudah. Tidak semua orang yang berhasil
mendapatkan jabatan dan pendidikan tinggi bahkan agamawan sekalipun
selalu mampu menjaga martabat diri. Kemampuan menjaga diri tidak cukup
berbekalkan ilmu dan pengalaman, melainkan semua itu harus
disempurnakan dengan kejernihan dan kesucian hati. Seseorang yang
hatinya bersih akan bisa menjaga harga dirinya. Oleh
karena itu, kecerdasan intelektual saja tidak cukup.
Akan
tetapi ternyata tidak semua orang sadar bahwa harga diri, derajat, prestise
dan semacamnya itu perlu dipelihara secara terus menerus dan dijaga
sebaik-baiknya. Akhir-akhir ini rumah tahanan dan penjara semakin
penuh. Pada setiap hari terdengar orang tertangkap basah oleh karena menyuap,
korupsi, menyalah gunakan wewenang dan seterusnya, dan kemudian
dipenjara, adalah oleh karena yang bersangkutan tidak mampu
memelihara dan atau menjaga harga dirinya sendiri.
Aspek yang sebenarnya justru penting
untuk menjaga harkat dan martabat yang seringkali dilupakan dan bahkan
diabaikan. Akibatnya, semua yang telah diraih dengan susah payah, seperti
pendidikan, harta kekayaan, pangkat, jabatan, dan
lain-lain menjadi runtuh oleh karena ketumpulan hati nurani yang
bersangkutan.
Sengkarut
Peran Perguruan Tinggi dalam penerapan-nya, yang sering disebut dengan Tridarma
Perguruan Tinggi: pada realitasnya
Bicara
mengenai dunia perguruan Tinggi tidak untuk mengatakan-ulang tuturan dosen dan
menuliskan-ulang isi buku. Belajar di kampus bermici mencari kenikmatan dalam
ikhtiar menjadi mahasiswa pembelajar.
Kuliah
tidak mesti merewat tekanan dan ketakutan merancang masa depan. Mahasiswa tidak
harus menjadi mesin agar mendapati pengetahuan secara produktif. Kampus bukan
perusahaan dengan menjadikan mahasiswa sebagai asset dan digerakkan oleh
aturan-aturan ekonomistik.
Permasalahan
Produsen perguruan tinggi jadi produsen sarjana, para sarjana menjadi pendamba
perusahan nasib, pengambinghitaman dilakukan saat sarjana tak sanggup memasuki
dunia kerja dan gagal dalam mengubah nasib atas inisatif sendiri. Sikap pasif
terlanjur ada dalam model pendidikan di kampus.
Resistansi
produktif dan otonomi diri mahasiswa hampir punah oleh kemanjaan era digital
ini dan kemalasan, kampus sebagai institusi edukasi kentara kehilangan peran
dalam impian-impian penyandang kesuksesan.
Melanjutkan
pendidikan di perguruan Tinggi menjadi mahasiswa, bahwa dengan demikian kita
sedang merintis satu-satunya jalan untuk mencapai tingkat kesarjanaan, kesempatan
ekonomis, karir, status sosial dan berbagai kehormatan lainnya, terbuka secara
lebih luas bagi kita dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kesempatan.
Dengan demikian usaha untuk memepercepat proses mobilitas vertikal, secara
ekonomi, sosial dan kultural juga dapat diraih.
Secara
sosiologis, sebagaimana di Indonesia dan Negara berkembang lainnya,
menyegerakan mencapai tingkat kesarjanaan dengan mengesampingkan kenyataan
bahwa betapa banyaknya sarjana yang menganggur dewasa ini.
Kita
akan segera menjadi kelompok baru dari para lulusan universitas. Latar belakang
sosial ekonomi Negara-negara berkembang yang pada umumnya agraris segera
menempatkan kita sebagai kelompok yang teristimewakan.
Disamping
sebagian pemuda seusia kita tidak berekesempatan memasuki perguruan tinggi
struktur sosial yang lebih berarti bagi mereka lulusan universitas. Jadilah
kita menjadi salah satu kelompok elite bangsa. Atau dalam bahasa gagahnya, the
best sons of the country, “anak-anak terbaik bangsa”.
Akan
tetapi apabila kita kembali pada persoalan bahwa sadar yang telah dikemukakan
diatas, posisi kita sebagai mahasiswa juga mahasiswa secara umumnya mau tidak
mau harus terbentur pada persoalan yang mendasar:
Apakah
perguruan tinggi yang kita tapaki pemuja
sarjana? Menggerakkan selayaknya
asset?
Apakah dengan posisi kita yang istimewa itu tetap berakar secara kuat dengan
lingkungan
sosiobudaya dan ekonomi yang sebelumnya melatarbelakangi kita?
Sebuah
dramatisasi untuk meneguhkan kesadaran ini sangat diperlukan baik oleh pihak perguruan tinggi maupun bagi kita,
mahasiswa yang dianggap sebagai pelopor perubahan.
Dengan
pertanyaan semacam ini, kita hanya ingin menyentak kesadaran posisional. Bahwa
pilihan kita menjadi mahasiswa yang menduduki posisi yang istimewa tidak terasa
bahwa kita telah menjadi pendukung operasi modal-modal internasional di dalam
Negara kita sendiri.
Gejala
ini bukan saja terlihat dari besarnya minat sebagian besar generasi muda
lulusan perguruan tinggi untuk bekerja di berbagai perusahaan asing asli tetapi
mereka juga telah menjadi birokrat-birokrat resmi. Lewat peraturan yang
diciptakan oleh birokrat misalnya, seperti UUPA, lisensi dan izin-izin usaha,
kekuatan modal Internasional mampu beroperasi secara meluas di Negara
berkembang. Generasi muda mahasiswa “anak-anak terbaik bangsa”, dalam struktur
semacam itu telah menjadi calon “sekerat skrup” dari mesin kapitalisme.
Pada
hemat saya, inilah tantangan yang paling aktual dan paling mendesak untuk dipecahkan
oleh generasi muda khsusunya mahasiswa di banyak Negara berkembang dewasa ini.
Sebab keistimewaan posisional yang kita miliki sebagai orang terdidik dan calon
sarjana secara langsung ataupun tidak, mendorong kita atau tepatnya,
menempatkan kita ke dalam posisi pimpinan bangsa di antara mayoritas mayarakat
yang tidak terdidik, di masa depan. Dengan demikian posisi yang sedang kita
jalani merupakan posisi yang sangat krusial.
Kegagalan
kita memahami posisi kita dalam gerak perubahan dan transformasional struktural
yang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar akan menyebabkan pula kita tidak
dapat memahami aspirasi rakyat banyak ketika kepemimpinan kita menjadi
kenyataan. Sebab dengan gejala yang semacam ini, kemungkinan kita menjadi
kelompok yang terasing ditengah-tengah mayarakat kita sendiri cukup besar. Dan
dalam perspektif inilah, kecaman seperti yang telah dikemukakan diatas,
mempunyai relevansi yang cukup kuat dengan kenyataan dan perkembangan generasi
muda dan mahasiswa dewasa ini dan di masa depan.
Akan
tetapi perlu dipahami dalam menafsirkan, bahwa pilihan kita menjadi mahasiswa,
betapapun bahwa sadarnya sifatnya adalah sesuatu yang keliru. Betapapun
radikalnya pemikiran seseorang, namun minat untuk menguasai pengetahuan modern
tetap dianggap sebagai suatu kebutuhan mutlak. Sebab tanpa pengetahuan, justru
akan semakin mencampakkan kita.
Pada
kaitannya yang ingin ditekankan disini peran perguruan tinggi dan generasi muda
khususnya mahasiswa, betapa perlunya memupuk kesadaran eksistensial kita sejak
dini. Dengan kesadaran ini bukan saja mengelakkan kita untuk berfungsi hanya
untuk sebagai skrup dari mesin modal akan tetapi juga akan dapat menempatkan
diri pada lingkungan lapisan masyarakat dalam sebuah perguruan tinggi.
Disamping itu juga sekaligus akan memungkinkan hasrat dan keprihatinan rakyat
banyak. Dengan demikian kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan akan kita
ciptakan ketika mahasiswa mampu tampil sebagai pemimpin. Lebih memihak pada
rakyat banyak, bukan pada segelintir orang atau kaum pemilik modal, secara
terbatas.