Sabtu, 28 Februari 2015

Terngiang


Tangkai  hati diragut kecewa
Luka di hati masih pedih terasa
Terpendam di dasar kegelapan

MPA membawa dampak Psikologis

         MPA yang merupakan singkatan dari Masa Pengenalan Akademik yaitu kegiatan tahunan yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta untuk menyambut Mahasiswa Baru, seperti kampus-kampus lainnya yang biasa menyebutnya dengan kata “Ospek”. 

 Panitia MPA mempersiapkan dari jauh hari bukan hanya dengan harapan kosong namun ada beberapa tujuan yang ingin dicapai. Namun realitanya MPA tidak berdampak signifikan bahkan hanya dianggap sebagai lelucon semata. 

         Riset yang dilakukan panitia MPA dalam mengkaji tingkat keberhasilan acara rupanya tujuan belum sepenuhnya tercapai, sebab acara MPA dari tahun ke tahun tidak jauh berbeda dan tidak berdampak signifikan. Hal ini perlu dikaji lebih dalam untuk melakukan perbaikan agar acara MPA kedepannya bisa lebih baik.

Sebagai Mahasiswa Baru yang baru memasuki dunia perkuliahan tentu belum mengetahui banyak hal, dengan diadakan MPA dapat membantu bahasiswa baru memperoleh beragam informasi mengenai Akademik maupun Non Akademik.
 
        Arahan serta bimbingan pada saat MPA diharapkan dapat mengubah karakter peserta tetapi faktanya perubahan karakter itu terlihat samar, bahkan sama sekali tidak mengubah karakter peserta MPA

        Penanaman nilai-nilai baru dalam waktu singkat dan dalam tekanan dapat dikatakan tidak efektif ditinjau dari faktor psikologi. Hal ini dikarenakan banyak peserta MPA yang tidur larut malam bahkan sama sekali tidak tidur karena mengerjakan setumpuk tugas dan mempersiapkan atribut MPA sehingga peserta juga tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menerima informasi baru, terlihat pada saat MPA beberapa peserta tertidur.

        Tidak terlepas dari itu MPA memberi dampak psikologis, arahan dan perlakuan keras yang dilakukan senior menyebabkan peserta MPA merasa terkekang sehingga tidak menikmati acara MPA.
  
        Setiap orang memiliki kerentanan psikologis yang berbeda sehingga hukuman yang serampangan ataupun perlakuan keras mental pada MPA dapat menimbulkan suatu trauma psikologis tersendiri bagi beberapa orang. Terauma ini pada akhirnya akan menimbulkan abnormalitas kejiwaan seseorang.

        Ada pula beberapa teman saya yang tidak menerima perlakuan senior pada saat MPA, sehingga berniat ingin menjadi panitia MPA selanjutnya agar dapat membalasnya kepada juniornya mendatang. Sungguh miris, MPA dijadikan sebagai ajang pembalasan.
Kebijakan MPA sudah sepatutnya perlu dilakukan perbaikan agar pesan dan tujuan MPA dapat diterima baik oleh peserta MPA. Bukan lagi MPA sebagai momok yang menakutkan namun sesuatu yang sangat dinanti oleh mahasiswa baru.

Kuliah sama sekolah beda dek!

Sebagai mahasiswa baru pastinya sangat merasakan perbedaan antara “mahasiswa” dan “siswa”. Mungkin sebagian besar mahasiswa baru mengalami cultural shock, seperti yang telah dipelajari dalam sosiologi suatu kondisi dimana seseorang kaget dengan kebiasaan-kebiasaan baru, mungkin termasuk saya.

Dari awal menjadi mahasiswa kita sudah dituntut untuk mandiri, mulai dari mengurusi administrasi, jadwal perkuliahan, penginputan kartu rencana studi, hingga mencari informasi dan mengikuti segala kegiatan perkuliahan.
Jadwal perkuliahan tentu sangat berbeda dengan jadwal pelajaran pada waktu sekolah. Di perkuliahan jadwal tergantung yang akan kita ambil dan diperkuliahan lebih banyak waktu kosong disela perkuliahan di dalam kelas. Biasanya banyak yang memilih untuk ikut berorganisasi, namun tidak sedikit juga yang suka menjadi kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang).

 Selain itu pergaulan dalam kuliah sangat berbeda, dari ruang lingkup kuliah saja sudah jauh lebih luas di banding sekolah. Di dalam perkuliahan tidak ada yang mengatur seperti halnya di sekolah dimana guru sangat intensif mengawasi siswanya, namun tidak di bangku perkuliahan. “Mahasiswa” sudah dianggap sebagai manusia dewasa yang sudah mengerti akan tanggung jawabnya.

Segala karakter makhluk kampus akan kita temui, mulai dari teman yang malas masuk kelas, mahasiswa yang caper di depan dosen, memanfaatkan teman, menghalalkan segala jalan untuk mendapatkan nilai bagus, tidak sedikit juga kita temui mahasiswa aktifis di luar kelas, dan masih banyak lagi.

Dosen satu sama lain pun memiliki sikap yang tidak lah sama, ada dosen yang asik, ada dosen killer, ada dosen yang sangat rajin setiap pertemuan selalu hadir bagaimanapun kondisi yang sedang terjadi, ada dosen bila berhalangan hadir tidak menghubungi penanggung jawab mata kuliah, tidak sedikit juga dosen yang sangat sibuk bila dihubungi untuk konfirmasi kehadiran saja sangat sulit.

Keobyektifan dosen lebih dibandingkan guru. Bila kita cerdas, aktif dikelas namun ujian kita jatuh maka nilai berpatok hanya pada hasil ujian, namun tidak semua masih ada dosen yang memperhatikan keaktifannya dalam kelas dan mejadikan prioritas  untuk penilaian. Ada juga dosen yang tidak peduli pada absensi, lembaran absensi hanya formalitas semata sebagai syarat boleh tidaknya mengikuti ujian. Dan lain sebagainya.

Bagian staf dan karyawan kampus akan kita temui, dari yang merespon dengan jutek, kurang dapat mengontrol emosi, dan ada juga yang sangat baik.

Kita mengetahui orang tercerdas di jaman sekolah kita dulu, di perkuliahan kita akan mengenal mahasiswa-mahasiswa jauh lebih hebat. Yang dulunya kita kenal ia wah, belum tentu diperkuliahan ia akan se”wah” seperti disekolah. Persaingan diperkuliahan semakin sangat ketat dan kompleks. Namun tidak menjadi masalah jika kamu bisa menjadi diri sendiri.

            Banyak yang bilang kuliah itu tugasnya banyak, ya memang benar. tugas kuliah terus mengalir dan bertambah. Oleh karena itu bagi yang masih sekolah belajar lah berlatih tidak perlu sedikit sedikit mengeluh, terima dan kerjakan saja.. kalau kata saya selagi bisa dikerjakan, kerjakan! tidak perlu ditunda karena sesuatu yang disegerakan bisa menjadi sangat menguntungkan.

            Masih terdapat banyak aspek lain, mungkin hal tersebut secara garis besarnya. Bagi saya dunia perkuliahan memiliki banyak tantangan, bagaimana kita menyikapinya saja. Bisa jadi sangat menyenangkan bagi siapa saja yang menikmati dan mencintainya, begitupula sebaliknya.

Ekonomi dan Pedagang Asongan

         Sering kita jumpai dijalan raya terdapat banyak pedagang asongan yang menawarkan dagangannya, baik ke pengendara kendaraan pribadi maupun penumpang angkutan umum. Mereka para pedagang asongan yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang bahkan hanya dianggap sampah masyarakat, hingga pemerintah pun berusaha menghilangkan keberadaan mereka dengan menangkap pedagang asongan tersebut oleh petugas kantib. Sungguh menyedihkan kaum kecil diperlakukan sewenang-wenang. Padahal tujuan mereka tidak lain yaitu mencari rezeki yang halal untuk menghidupi kehidupan keluarganya.

            Menjadi Pedagang Asongan bukanlah pilihan mereka, namun keadaan yang memaksa mereka untuk itu. Seharusnya kita bangga dengan mereka yang tidak memilih mengulurkan tangannya dibawah dengan wajah yang melas, bahkan mereka tidak bertindak kriminalitas tetapi mereka memilih untuk terus berusaha bekerja keras dengan keterbatasan yang mereka miliki. Pada realitanya terlihat jelas betapa tidak ternilai rakyat kecil dikalangan masyarakat hingga pemerintah.  Padahal telah tercantum dalam UUD 1945 ada pada  Bab X Pasal 27 Ayat 2 “Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” lalu dimana aplikasi dari UUD 1945 ada pada Bab X Pasal 27 Ayat 2 tersebut?

            Dapat dikatakan landasan yang telah dibuat hanya sebuah simbolisasi. Dalam pelaksanaannya belum berjalan hingga berbanding terbalik dengan relita yang terjadi, dimana pekerjaan mereka berusaha dihilangkan dengan cara tidak manusiawi, bagaimana tidak mereka secara koersif dipaksa untuk ikut penjaringan yang dikerahkan oleh petugas kantib dengan alasan menertibkan lingkungan dan kebersihan lingkungan. Namun disamping itu justu tindakan tersebut mematikan perekonomian mereka.

Dalam memajukan Perekonomian Nasional kegiatan perekonomian mereka bukan berarti harus dihilangkan tetapi lebih kepada diperdayakan agar usaha mereka dapat meningkat dalam hal penghasilan. Hal itu justu lebih ampuh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kegiatan ekonomi kaum akar rumput.

            Pemberdayakan disini dapat meliputi pelatihan kepada ekonomi pedagang asongan dalam hal pengembangan usaha, inovasi produk, serta bantuan modal pemasaran produk agar dapat menjangkau pasar secara lebih luas. Pada kenyataannya usaha mereka saat ini cenderung stagnan dan sulit berkembang akibat orientasi mereka hanya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bukan lebih kepada pengembangan produk atau inovasi produk untuk menciptakan kemandirian ekonomi pedagang asongan.

            Dengan begitu memberdayakan ekonomi pedagang asongan merupakan langkah bijak guna mendorong kemajuan perekonomian Indonesia. Hal demikian bukan hanya dapat membangun perekonomian Indonesia tetapi sekaligus dapat mensejahterakan kaum akar rumput.

Wahana Pendidikan Indonesia


“Bagaimanapun baiknya kurikulum yang diajarkan kepada peserta didik, bagaimanapun antisipasi yang sudah dilakukan pemerintah dalam menanggapi berbagai perubahan, tantangan untuk meningkatkan mutu peserta didik tak lepas pula dari keberadaan mutu tenaga pengajar (pendidik)”, seperti itulah yang dikatakan oleh Maringan Sitorus selaku ketua yayasan KSM  dalam buku Pendidikan Indonesia karya Sintong Silaban.

Saat ini sering kali kita memperdebatkan persoalan kurikulum, maupun kebijakan pemerintah terkait dengan Pendidikan Indonesia. Namun kita lupa akan keberadaan guru yang padahal komponen utama dalam pendidikan. Tidak salah diperlukan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia, namun disamping kita perlu adanya peningkatan mutu pendidik pada setiap jenjang pendidikan. Tentu saja dikarenakan pendidik merupakan wahana dalam proses pembelajaran, maka diperlukan tenaga pendidik yang profesional dibidangnya. Hal ini dapat dilakukan dengan pengujian kembali terhadap peran dan bobot pengajar lembaga pendidikan pada setiap jenjangnya.

Sudah sepatutnya profesi guru harus diuji betul kelayakannya untuk menjadi pendidik yang professional. Kata professional disini memiliki beragam makna, salah satunya pendidik bukan hanya sekedar mendidik namun memberikan pembelajaran kepada peserta didik, serta membangun karakter peserta didik, bukan hanya mencerdaskan intelektual namun juga mencerdaskan atitute peserta didik. Sebagimana yang tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar alinea keempat Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Disini peran pendidik sebagai wahana yang menghantarkan peserta didik menuju masa depan yang cerah. Wahana dalam artian merupakan kendaraan, peran pendidik yang merupakan fasilitator peserta didik agar tercapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia. Dengan itu secara tidak langsung membantu pembangunan bangsa. Sebab salah satu tolak ukur keberhasilan bangsa yaitu pendidikan yang berkualitas.

Namun masalahnya ada perbedaan yang mendasar antara tenaga pengajar di daerah-daerah dengan kota-kota besar yang selama ini menjadi salah satu dilema Pendidikan Nasional. Masalah pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia memang merupakan masalah yang pelik. Sebab bukan menyaut benda mati, namun manusianya. Tuntutan lembaga pendidikan untuk lebih dan benar-benar selektif terhadap memilih pengajar professional, namun juga tidak sepenuhnya menjamin hasil seleksi tes masuk tanpa adanya latihan sebelum dipercayakan  mengajar para siswanya.

Ketidakmampuan menciptakan tenaga pengajar yang professional dibidangnya alasan mengapa pendidik di Indonesia  belum dapat maju. Dalam penerimaaan staf pengajar selama ini mayoritas sarjana lulusan perguruan tinggi non-keguruan, hanya ada beberapa yang lulusan perguruan tinggi kependidikan. Oleh karena itu pemerintah kini melakukan kebijakan untuk menjadi seorang pendidik harus mendapatkan sertifikasi profesi guru yang didapatkan melalui pendidikan profesi guru selama satu tahun. Namun rupanya hal tersebut belum cukup menjawab permasalahan mutu yang diperlukan sebagai pendidik. 

Menghidupkan kembali Perguruan Tinggi yang secara khusus mencetak calon pendidik seperti beberapa tahun silam yang bernama IKIP, itu salah satu cara yang menurut saya sangat efektif untuk menghasilkan tenaga pengajar yang berkualitas, sebelumnya persyaratan  untuk masuk diperlukan perhatian lebih kepada peminatan akan profesi guru bisa dengan cara tes minat, serta melihat kepribadiannya. Sebab guru merupakan contoh dan panutan para peserta didiknya, untuk itu diperlukan betul pendidik yang berkualitas.

Memang semua kembali lagi kepada diri pengajar masing-masing, Pendidik setidaknya harus paham betul akan profesinya. Sering kali kita temukan pengajar namun tidak bisa memberikan pembelajaran kepada peserta didiknya. Ia bukan tidak cerdas, namun tidak dapat menyampaikan materi dengan baik sehingga peserta didik tidak mengerti materi yang telah disampaikan. Bahkan ia pun hanya mengajarkan, mentransferkan ilmu saja tanpa memberikan waktu untuk memahami apakah peserta didiknya paham atau tidak apa yang ia sampaikan.

“Memausiakan Manusia”, itulah tanggapan dari Bapak Dimyati selaku Dosen Landasan Pendidikan UNJ mengenai pendidikan. Ia mengatakan bahwa pendidikan itu suatu proses memanusiakan manusia, didalam pendidikan selama proses pembelajaran perlu adanya kebebasan peserta didik untuk berfikir kritis, peserta didik diberi waktu untuk berdiskusi, tanya-jawab, serta diperbolehkan menanggapi apa yang telah disampaikan oleh pendidik. Dengan demikian peserta didik tidak hanya menerima dan menerima, guru selalu benar, namun peran peserta didik untuk berpikir kritis diperlukan dalam proses belajar-mengajar.

Pendidikan sendiri memiliki arti mendidik, mentransferkan ilmu pengetahuan dari pendidik ke peserta didik, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, memberikan pembelajaran bukan hanya sekedar mengajar. Disini peran pendidik bukan hanya mengajarkan sebatas kewajibannya namun peran pendidik untuk berusaha mengajarkan kepada peserta didik bagaimana dapat paham apa yang disampaikannya, yang selama ini seringkali disalahartikan antara pengajaran dengan pembelajaran.

Bukan hanya sebagai ajang menuntut ilmu, tetapi juga Pendidikan harus dapat membentuk karakter peserta didik. Membentuk karakter peserta didik memanglah tidak semudah membalikan telapak tangan, diperlukan proses. Sebab eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimilikinya. Hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu menjadi bangsa yang berkarakter adalah salah satu impian bangsa Indonesia.

Kesempatan ada ditangan kita sendiri, namun bagaimana bisa kita dapat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Salah satunya juga kita dapat mencontoh Negara-negara yang pendidikannya maju. Kita dapat mempelajari kenapa bisa dan mengapa kita belum?! Peran dari seluruh komponen diperlukan untuk memajukan pendidikan Indonesia terutama peran dari pendidik sendiri. Pendidikan Indonesia bukan lagi menjadi persoalan namun menjadi kebanggaan bangsa, belum sekarang namun suatu saat. Pasti!

Ketika bukti kehadiran ditentukan oleh Selembar Kertas

 6 Januari 2015.

Setelah aku kabar-kabari dengan salah satu pihak panitia softskill FE UNJ, aku segera memberitahu ketua kelasku Gum. Sebelum jam pertemuan Gum dengan pihak panitia softskill, aku terus mengingatkan untuk segera ke ruang cdc untuk mengambil sertifikat softskill agar tepat waktu dan tidak telat karena tidak mudah menghubungi pihak panitianya belum lagi yang membuat hati rada jengkel.

            Prepare ingin jalan bersama kawan lama, di whatsapp grup kelas gum menanyakan apakah suci dan umnia benar tidak masuk? Dodo membantah suci masuk. Liat aja foto disitu jelas suci hadir sebelum pelatihan softskill foto bersama sekelas. Gum pun memberitahu bahwa suci hadir. Namun panitia tidak mau tahu karena suci tidak ada tandatangannya, bila tidak tandatangan dinyatakan “tidak hadir”.    
        
            Aku tentu saja tidak terima, aku benar hadir. Aku jelaskan kepada gum di balasan chat grup maupun personal ternyata aku beneran tidak menandatangani absen. Aku sangat ingat bahwa aku sudah absen, namun ternyata diabsensi aku tidak menandatangani. Aku baru ingat ketika softskill liftnya eror, tandatangan sebelumpintu masuk dan dapat snack sarapan, aku dapet kok tapi kayaknya gak tandatangan semuanya. Ternyata ketika aku tanyakan ada 4 kali tandatangan, dan salah satunya dipegang pihak cdc tepat dilembar absen yang dipegang pihak cdc aku tidak ada tandatangannya. Itulah penyebab aku tidak dibuatkan sertifikat.

            Dengan perasaan sangat kecewa. Memang ini juga merupakan kelalaianku. Namun aku tidak bisa terima kehadiran hanya ditentukan oleh selembar absen. Aku sangat ingat ketika pelatihan softskill mulai pukul 08.00 aku janjian dengan teman sekelas. Pendidikan ekonomi masuk tahap pertama, pukuk 08.00-12.00. Pakaian yang dikenakan adalah batik, tepat softskill besok pra PKMJ EA 2014. Aku mengenakan batik lengan pendek dilapisi baju hangat. Sebelum masuk kami foto dahulu sekelas tepat disamping sergur. Ini foto kami.

Tak terduga!

            Rencana ingin bersenang-senang dengan kawan lama, seketika badmood luar biasa mendengan kabar tersebut, memang apalah arti selembar sertifikat tersebut? Namun aku berteguh untuk mengungkapkan kebenaran bahwa aku mengikuti pelatihan softskill 2014, aku tidak mau dipersulit kedepannya aku pun tidak mau dipaksa untuk ikut lagi tahun depan dengan dikenakan biaya Rp.250.000. Selain itu aku sebenarnya sangat ogah bila harus menghadapi panitia kembali, namun masalah ini harus aku selesaikan dengan sesegera mungkin. Sebelum libur bersama tiba, dan masalah ini berlarut hingga kemungkinan terburuknya akan hilang begitu saja.

            Tidak ada guna saya menjelaskan kejujuran, meminta toleransi atas kelalaian saya dan mencari jalan keluar seadilnya dengan pihak yang mengurusi sertifikat tersebut, tidak ada guna aku memendam rasa amarah. Bingung memikirkan bagaimana bisa pihak panitia bisa menerima kenyataan bahwa aku hadir, dan memaklumi kelalaian aku karena tidak mengisi absensi.

Namun yang tertera dalam absen tepat samping nama tejo, umni disilang kecil, sedangkan aku dicontereng. Aku berpikir mungkin mereka berdua bener tidak hadir jadi tidak absen sama sekali, sedangkan aku ketika didepan pintu masuk aku sempet absen. Tejo memang tidak pernah masuk dan mengikuti kegiatan perkuliahan setelah beberapa bulan terakhir, sedangkan umni memang saat itu tidak terlihat hadir. Difotopun tidak ada. Untuk mamastikan bertanya langsung ke umni, dan betul ia tidak hadir. Hanya aku berarti yang hadir tetapi tidak absen.

Dengan tanda tersebut aku ingin mempertanyakan lebih lanjut. Aku pun bertanya kepada teman-temanku bersedia tidak menjadi sanksi bahwa aku benar hadir. Dengan lugas ketua kelasku bersedia dan berusaha mencari jalan keluar juga, serta partisipasi teman kelasku lainnya. Aku pun terus berpikir, hingga akhirnya aku teringat Kak Dimas Satria. Ketua magenta FE 2014, yaitu ketua pelaksana acara-acara setelah MPA. Aku pun segera menghubungi Kak Dimas.

Sejenak aku lupakan masalah tersebut, aku redamkan rasa kecewaku. Aku bergegas segera menyelesaikan pekerjaan rumah, menjaga keponakan kecilku Citra, dan rapi-rapi selasai semua aku langsung pamitan.

Kak Dimas pun berkata kalau seperti itu hubungi panitia softskill langsung diruang cdc. Panitia bukan pihak dari Bem FE ataupun magenta, namun cdc merupakan lembaga dekanat. Keputusan ada ditangan mereka. Tidak ada cara lain saya harus menghubungi pihak panitia itu kembali. Pikirku entah bisa atau tidak karena pihak panitia cdc bersikap seperti itu, Entahlah. 


Kehadiran ditentukan oleh selembar kertas

Selama satu semester lalu sebagai mahasiswa baru, berbagai acara magenta. Yaitu acara-acara pasca MPA yang diadakan fakultasku. Mulai dari good morning dimana acara tersebut menghadirkan orang-orang hebat agar dapat menginspirasi, PPBI1 PPBI 2 yang merupakan penyampaian materi dari orang-orang hebat serta pelatihan menulis, CFD Gabungan mentoring gabungan buat yang islam, Economic Camping, Softskill, PKMJ, Closing magenta, ataupun acara tidak wajibnya seperti WISE (Wisata Ekonomi Islam) yaitu acara yang diselenggarakan organisasi keislaman fakultasku.

Dari seluruh acara pasti tidak lepas dari selembar absensi. Tidak menutup kemungkinan ketika salah seorang absen sekaligus mengabsen temannya yang tidak hadir. Seperti temanku menitip absen kehadiran salah satu acara magenta hingga akhirnya hanya diketahui bahwa ia hadir, namun tidak ketahuan oleh pihak panitianya. Bagaimana bisa ketahuan jika tidak dicek kehadirannya.

Sudut pandangku mengenai absensi selembar kertas belum akurat sepenuhnya, karena pasti ada saja kecurangan didalamnya.

Selain itu dalam dunia perkuliahan tidak asing lagi dengan kata “nitip absen dong”. Ya memang realitanya hal tersebut sudah menjadi hal biasa dikalangan mahasiswa. Bila malas dengan matakuliahnya, melobby temannya untuk bisa menandatangani absennya sebagai bukti kehadiran.

Sebagian besar dosen keseharian mengajar tidak melihat absensi hanya sesekali dosen mengecek kehadiran satu per satu bahkan tidak mengecek absensi sama sekali seperti dosen mata kuliah pengantar akuntansiku.

Bagi mereka yang menitip absen sebagai bukti kehadiran sebagian besar aman saja. Dan tidak segan mengulanginya ketika ia sedang malas masuk kelas.

Ketidakadilan dirasakan oleh yang benar hadir dengan yang hadir secara absensi saja namun nyatanya tidak hadir. Hanya karena bukti selembar absensi terpenuhi maka semua diperlakukan sama.

            Seharusnya hal ini bisa diantisipasi dengan berbagai hal, setidaknya dengan kecermatan pemegang absen untuk menjaga dan mengecek kehadiran kembali.

Hasanah dari Seorang Ibu

            Saya bersyukur bisa lahir ke dunia ini berkat ibu saya yang sangat luar biasa, 9 juli 1996 tengah malam saya dilahirkan secara sesar di sebuah rumah sakit di kawasan pusat kota jakarta tetapi ternyata Allah berkendak lain ibu kandung saya tidak dapat terselamatkan. Tepat memasuki tanggal 10 Juli ibu kandungku sudah tiada.

            Dimana kelahiranku ditunggu dengan gembira namun pada saat itu juga terlinang air mata, seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi anaknya. Duka menyelimuti keluargaku, terutama ayah dan kakakku yang pada saat itu baru berumur 3 tahun. Namun apa daya kehendak Allah seperti ini, semua harus bisa mengikhlaskan.

             Ayah dan kakakku pindah rumah ke bekasi, sedangkan aku diasuh oleh bibi ibuku yaitu nenekku beserta suaminya, kakekku. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan emak dan Alm.Bapak.

              Emak sangat menginginkan memiliki anak perempuan namun kedua anaknya laki-laki. Emak dan Bapak pun memutuskan untuk mengangkat saya sebagai anaknya. Betapa bahagianya Emak bisa memiliki anak perempuan, walau bukan anak hasil rahimnya. Emak merawat, membesarkanku dengan penuh kasih sayang juga mendidikku, memenuhi segala kebutuhanku sejak aku lahir kedunia ini hingga kini.

             Aku seringkali menjengkelkan Emak, namun Emak selalu sabar menghadapiku, tidak ada kekerasan yang dilakukan hanyalah ketulusan hati seorang Ibu yang begitu tulus. Begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan Emak semuanya dilakukan tanpa pamrih, tanpa menuntut apapun dariku.

             Hangatnya belaian kasih sayang aku rasakan dalam kesederhanaan, kelembutan hati seorang Ibu mengalir dalam diri Emak. Emak tidak pernah membeda-bedakan anaknya tidak terkecuali aku, yang bukan anak kandungnya.

             Ibu rumah tangga merupakan pekerjaan Emak sehari-hari di rumah, waktu dihabiskan total untuk keluarga. Sehingga kami sama sekali tidak pernah merasakan kurang perhatian.

           Begitu perhatian Emak kepada anak-anaknya, hingga sering kali kami menyebutnya dengan kata “cerewet”. Hingga kami semua sudah dewasa Emak pun masih terus memerhatikan, memproteksi terutama aku anak perempuan. Kami sering kali merasa sedikit kesal namun sebenarnya kami sadar bahwa rasa kekhawatiran tersebut sangat kuat dalam diri seorang Ibu. Emak juga seringkali berkata, “kalau telat kabari walau hanya semenit saja agar yang dirumah tenang.”

             Emak mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan. Dan yang paling aku ingat emak selalu mengajarkan kepada kami, walau bagaimanapun orang jahat kepada kita jangan pernah kita membalas kejahatan orang tersebut. Tetaplah berbuat baik. Kejahatan dibalas kejahatan maka kamu sama jahatnya, namun bila kejahatan terus kamu balas dengan kebaikan lambat laur ia juga akan sadar.

          Obrolan santai kerap kali terjalin di ruang keluarga, hingga kata-kata terlontar untuk mengarahkan kami kedepannya, nasihat terus diajarkan kepada kami.

      Sejak kecil kami didik Emak, ditanamkan nilai keagamaan, diajarkan mengaji, disekolahkan hingga diberi kesempatan untuk belajar tambahan diluar sekolah demi mendukung prestasi di sekolah. Pendidikan anak-anaknya merupakan prioritas Emak. Namun Emak tidak pernah memaksakan, semua tergantung kehendak kami.

           Hasanah dari seorang Emak semakin aku dewasa kini, aku semakin paham. Emak yang juga merupakan teladan bagiku, panutan ku seorang yang sangat luar biasa, kata-kata tidak cukup menjelaskan bagaimana yang selama ini Emak lakukan terhadap kami, terutama diriku.

         Aku sangat bersyukur masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu yang aku dapatkan dari Emak, tidak akan pernah sanggup aku membalas semuanya tidak ternilai dan tidak dapat diukur dengan apapun.

         Aku hanya bisa terus berharap dan mengusahakan, Emak terus ada di sampingku dengan kebahagiaan. Hingga akhirnya emak dapat merasakan kesuksesanku kelak.

           

            

halo

        Halo perkenalkan nama saya Suci Sri Setiowati biasa akrab dipanggil Uci. Sekarang saya baru masuk semester dua. Yak! bau bau mahasiswa barunya udah mulai menghilang nih, padahal saya seneng jadi paling junior soalnya enak kalo ketemu mahasiswa asing lainnya tinggal panggil aja Kak gaktau dah beneran senior atau sesama mahasiswa baru juga hahaha yang jelas disini saya masih paling junior. Saya kuliah di perguruan tinggi negeri yang ada di Jakarta dimana kampus yang dulunya memiliki fokus utama akan mencetak tenaga pengajar professional.

          Ini blog lama yang baru saya perbaharui kembali. Saya lagi dalam proses belajar menulis, untuk menyalurkannya salah satunya dengan saya akan posting ke blog ini. Tulisan-tulisan ini murni hasil tulisan saya, terkecuali jika saya mencantumkan sumber lain.

         Saya akan berbagi cerita, pengalaman, berbagai jenis tulisan tentunya mengandung informasi yang memungkinkan dapat bermanfaat. Bila ada kritik maupun masukan mengenai tulisan saya sebab mengandung SARA, kesalahan dalam penulisan, dan lain sebagainya mohon dituliskan pada kolom komentar agar saya bisa terus intropeksi diri sekaligus juga belajar dari kesalahan. Tulisan tulisan ini semata-mata hanya ingin berbagi, belajar bersama, sama sekali tidak ada maksud untuk menjatuhkan pihak lain ataupun maksud buruk lainnya. 

           Terimakasih*