Rabu, 04 Maret 2015

Kebisuan terhadap Bahasa Pemersatu Bangsa



Bahasa Indonesia? Untuk apa mempelajari bahasa Indonesia sih, yailah bahasa Indonesia doang masa orang Indonesia gak ngerti. Mungkin banyak diantara kita berpikir hal demikian, menganggap remeh bahasa nasional sendiri.

Kajian Raboan yang dibawakan Kak Ester telah membuka pengetahuan baru saya mengenai seluk-beluknya berbahasa dan menyikapi bahasa yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.

Berawal dari sejarah bahasa Indonesia sendiri, bahasa Indonesia merupakan campuran dari berbagai bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk bahasa melayu.

Bahasa Melayu telah dipergunakan beberapa Negara untuk berkomunikasi juga menjadikannya sebagai bahasa Nasional seperti Malaysia dan Brunei, namun Indonesia memutuskan membangun Bahasa sendiri yang dinamakan “Bahasa Indonesia”.

Sudah sepatutnya kita bangga, sebab kemandirian Indonesia menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bukan merupakan perkara yang mudah.

Bahasa pemersatu bangsa, tidak dapat diketahui pasti kapan lahir namun Bahasa Indonesia telah ditetapkan pada saat Sumpah Pemuda, yakni 28 Oktober 1928. Tertulis di dalamnya pada alinea ketiga “Kami menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”.

Menjunjung tinggi bahasa pemersatu, tetapi bukan berarti melupakan bahasa-bahasa daerah yang ada di Nusantara. Dari Sabang hingga Serauke, Indonesia terdapat 456 bahasa daerah, untuk itu dalam rangka mengefektifkan berkomunikasi cukup dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Apabila dikaitkan dalam teori komunikasi dijelaskan bahwa komunikasi efektif ialah komunikasi yang pesannya dapat diterima baik oleh komunikan, dan komunikasi dapat berlangsung efektif apabila kita memiliki kesamaan misalnya menggunakan bahasa yang sama.

Hal tersebut tentunya terlihat jelas bahwa pentingnya berbahasa, namun pertanyaannya berbahasa bagaimanakah yang baik dan benar?

Sebenarnya kurang tepat dikatakan baik tidaknya, namun pada umumnya berbahasa dipergunakan sesuai dengan konteksnya. Untuk kebenaran dalam berbahasa Indonesia kita dapat berpatokan pada Tata cara EYD dan kamus KBBI.

Keadaan kini

Globalisasi telah membawa dampak masuknya berbagai bahasa ke dalam kehidupan. Bahasa Asing seperti Bahasa Inggris rupanya sudah menjadi kebutuhan, bahkan sebagian orang menempatkan bahasa asing di atas bahasa Indonesia. Sebetulnya tidak masalah jika dilihat dari sisi sosial ekonomi dan bisnis. Penguasaan bahasa Inggris yang baik menjanjikan taraf sosial ekonomi yang jauh lebih baik daripada hanya menguasai bahasa Indonesia. Penggunaan merek dagang dengan bahasa Inggris pun lebih memberi harapan.

Penghalusan kata menggunakan bahasa asing pun lebih mengesopankan, seperti menyebut karyawan perusahaan cleaning service akan terasa lebih tinggi derajatnya daripada menyebut petugas kebersihan.

Yang dirisaukan adalah ketika pengggunaan bahasa Inggris itu sudah masuk ke ruang publik dan memasuki kantor-kantor instansi. Sepertinya sudah jarang ada sebutan ruang kerja atau ruang pertemuan. Yang ada adalah operation room atau meeting room. Di pintu tertulis pull atau push, bukan lagi dorong dan tarik.

Secara formal nasional status bahasa Indonesia menduduki peringkat pertama, tetapi secara emosional berada di bawah bahasa Inggris.

Konsistensi bahasa Nasional

Hingga saat ini rupanya masih belum adanya penyadaran akan pentingnya bahasa Indonesia dan aturan penggunaaan bahasa Nasional dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa informal dijadikan alat dalam berkomunikasi sehari-hari. Suatu waktu saja misalnya kita menggunakan bahasa baku, kita pasti dianggap sok. Sikap negative tersebut merupakan kebiasaan, sehingga ketika menggunakan bahasa yang baik dan benar sekalipun dianggap sesuatu yang aneh, juga bisa terjadi karena tidak adanya rasa bangga terhadap bahasa Nasional.

Kita sebagai orang Indonesia pun sesungguhnya belum paham betul mengenai bahasa Indonesia, sebut saja benar mana apotek atau apotik? Menyapu atau mensapu? Memehatikan atau memperhatikan? Mempesona atau memesona? Secara tidak sadar hal sempele tersebut seringkali kita abaikan.

Selain itu penggunaan bahasa Indonesia dalam buku-buku, termasuk dalam buku pelajaran pun, penulis serta editor belum tentu memperhatikan dan mengetahui, terlihat dalam tulisan banyak kata yang kurang tepat untuk digunakan. Namun ini lah lemahnya bahasa Indonesia, bahasa Indonesia asal dapat dipahami saja sudah cukup.

Penggunaan bahasa Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam Undang-undang Dasar tahun 2009, namun sepertinya hal tersebut hanya sekedar formalitas saja sebab tidak ada aturan lanjut serta batasan penggunaan dan sanksi yang berlaku.

MengIndonesiakan melalui bahasa pemersatu

            Wajibkan orang asing datang ke Indonesia dapat berbahasa Indonesia? Bila kita tengok Negara Jepang ataupun Korea, Negaranya mewajibkan siapapun yang berada diwilayahnya dapat mengerti bahasa nasionalnya tidak menggunakan bahasa lain. Kebijakan tersebut salah satu rasa kebanggaan atas bahasa yang dimilikinya. 

            Lain halnya dengan Negara kita. Tulisan-tulisan yang ada tidak lagi bahasa Indonesia namun juga bahasa asing, dengan adanya orang asing kita malah secara tidak langsung dituntut untuk dapat juga berbahasa asing. Tidak dapat dipungkiri bahasa Indonesia semakin terpinggirkan.

Mengapa ada EYD?

            EYD merupakan kependekan dari Ejaan Yang Disempurnakan, maksudnya tata bahasa ejaan Indonesia terus menerus mengikuti perkembangan.

KBBI tidak ada edisi akhir?

Bahasa diciptakan setelah manusia melakukan komunikasi, lalu dibuatlah KBBI. KBBI yang merupakan kumpulan kata dalam Bahasa Indonesia yang telah ditetapkan secara resmi. Apabila suatu kata tidak digunakan, maka kata tersebut dapat dihapus dari kamus oleh karena itu kamus KBBI terus menerus melakukan pembaharuan sebab bahasa terus mengikuti perkembangan jaman atau disebut juga dinamis.

            Bicara bahasa merupakan hal yang cukup kompleks sebab mencangkup berbagai aspek, namun apabila dapat dipahami bahasa memiliki unikan tersendiri, juga terdapat hubungan antara latar belakang sejarah serta kebudayaan yang begitu kental melekat di dalamnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar