MPA yang merupakan singkatan dari Masa Pengenalan Akademik yaitu kegiatan tahunan yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta untuk menyambut Mahasiswa Baru, seperti kampus-kampus lainnya yang biasa menyebutnya dengan kata “Ospek”.
Panitia MPA mempersiapkan dari jauh hari bukan hanya dengan harapan kosong namun ada beberapa tujuan yang ingin dicapai. Namun realitanya MPA tidak berdampak signifikan bahkan hanya dianggap sebagai lelucon semata.
Riset yang dilakukan panitia MPA dalam mengkaji tingkat keberhasilan acara rupanya tujuan belum sepenuhnya tercapai, sebab acara MPA dari tahun ke tahun tidak jauh berbeda dan tidak berdampak signifikan. Hal ini perlu dikaji lebih dalam untuk melakukan perbaikan agar acara MPA kedepannya bisa lebih baik.
Sebagai Mahasiswa Baru yang baru memasuki dunia perkuliahan tentu belum mengetahui banyak hal, dengan diadakan MPA dapat membantu bahasiswa baru memperoleh beragam informasi mengenai Akademik maupun Non Akademik.
Arahan serta bimbingan pada saat MPA diharapkan dapat mengubah karakter peserta tetapi faktanya perubahan karakter itu terlihat samar, bahkan sama sekali tidak mengubah karakter peserta MPA
Penanaman nilai-nilai baru dalam waktu singkat dan dalam tekanan dapat dikatakan tidak efektif ditinjau dari faktor psikologi. Hal ini dikarenakan banyak peserta MPA yang tidur larut malam bahkan sama sekali tidak tidur karena mengerjakan setumpuk tugas dan mempersiapkan atribut MPA sehingga peserta juga tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menerima informasi baru, terlihat pada saat MPA beberapa peserta tertidur.
Tidak terlepas dari itu MPA memberi dampak psikologis, arahan dan perlakuan keras yang dilakukan senior menyebabkan peserta MPA merasa terkekang sehingga tidak menikmati acara MPA.
Setiap orang memiliki kerentanan psikologis yang berbeda sehingga hukuman yang serampangan ataupun perlakuan keras mental pada MPA dapat menimbulkan suatu trauma psikologis tersendiri bagi beberapa orang. Terauma ini pada akhirnya akan menimbulkan abnormalitas kejiwaan seseorang.
Ada pula beberapa teman saya yang tidak menerima perlakuan senior pada saat MPA, sehingga berniat ingin menjadi panitia MPA selanjutnya agar dapat membalasnya kepada juniornya mendatang. Sungguh miris, MPA dijadikan sebagai ajang pembalasan.
Kebijakan MPA sudah sepatutnya perlu dilakukan perbaikan agar pesan dan tujuan MPA dapat diterima baik oleh peserta MPA. Bukan lagi MPA sebagai momok yang menakutkan namun sesuatu yang sangat dinanti oleh mahasiswa baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar