Sebagai
mahasiswa baru pastinya sangat merasakan perbedaan antara “mahasiswa” dan
“siswa”. Mungkin sebagian besar mahasiswa baru mengalami cultural shock,
seperti yang telah dipelajari dalam sosiologi suatu kondisi dimana seseorang
kaget dengan kebiasaan-kebiasaan baru, mungkin termasuk saya.
Dari
awal menjadi mahasiswa kita sudah dituntut untuk mandiri, mulai dari mengurusi administrasi,
jadwal perkuliahan, penginputan kartu rencana studi, hingga mencari informasi
dan mengikuti segala kegiatan perkuliahan.
Jadwal
perkuliahan tentu sangat berbeda dengan jadwal pelajaran pada waktu sekolah. Di
perkuliahan jadwal tergantung yang akan kita ambil dan diperkuliahan lebih
banyak waktu kosong disela perkuliahan di dalam kelas. Biasanya banyak yang
memilih untuk ikut berorganisasi, namun tidak sedikit juga yang suka menjadi kupu-kupu
(kuliah-pulang-kuliah-pulang).
Selain itu pergaulan dalam kuliah sangat
berbeda, dari ruang lingkup kuliah saja sudah jauh lebih luas di banding sekolah.
Di dalam perkuliahan tidak ada yang mengatur seperti halnya di sekolah dimana guru
sangat intensif mengawasi siswanya, namun tidak di bangku perkuliahan.
“Mahasiswa” sudah dianggap sebagai manusia dewasa yang sudah mengerti akan
tanggung jawabnya.
Segala
karakter makhluk kampus akan kita temui, mulai dari teman yang malas masuk
kelas, mahasiswa yang caper di depan dosen, memanfaatkan teman, menghalalkan
segala jalan untuk mendapatkan nilai bagus, tidak sedikit juga kita temui
mahasiswa aktifis di luar kelas, dan masih banyak lagi.
Dosen
satu sama lain pun memiliki sikap yang tidak lah sama, ada dosen yang asik, ada
dosen killer, ada dosen yang sangat rajin setiap pertemuan selalu hadir
bagaimanapun kondisi yang sedang terjadi, ada dosen bila berhalangan hadir
tidak menghubungi penanggung jawab mata kuliah, tidak sedikit juga dosen yang
sangat sibuk bila dihubungi untuk konfirmasi kehadiran saja sangat sulit.
Keobyektifan
dosen lebih dibandingkan guru. Bila kita cerdas, aktif dikelas namun ujian kita
jatuh maka nilai berpatok hanya pada hasil ujian, namun tidak semua masih ada
dosen yang memperhatikan keaktifannya dalam kelas dan mejadikan prioritas untuk penilaian. Ada juga dosen yang tidak
peduli pada absensi, lembaran absensi hanya formalitas semata sebagai syarat
boleh tidaknya mengikuti ujian. Dan lain sebagainya.
Bagian
staf dan karyawan kampus akan kita temui, dari yang merespon dengan jutek,
kurang dapat mengontrol emosi, dan ada juga yang sangat baik.
Kita
mengetahui orang tercerdas di jaman sekolah kita dulu, di perkuliahan kita akan
mengenal mahasiswa-mahasiswa jauh lebih hebat. Yang dulunya kita kenal ia wah,
belum tentu diperkuliahan ia akan se”wah” seperti disekolah. Persaingan
diperkuliahan semakin sangat ketat dan kompleks. Namun tidak menjadi masalah
jika kamu bisa menjadi diri sendiri.
Banyak yang bilang kuliah itu tugasnya banyak, ya memang
benar. tugas kuliah terus mengalir dan bertambah. Oleh karena itu bagi yang
masih sekolah belajar lah berlatih tidak perlu sedikit sedikit mengeluh, terima
dan kerjakan saja.. kalau kata saya selagi bisa dikerjakan, kerjakan! tidak
perlu ditunda karena sesuatu yang disegerakan bisa menjadi sangat
menguntungkan.
Masih terdapat banyak aspek lain, mungkin hal tersebut secara
garis besarnya. Bagi saya dunia perkuliahan memiliki banyak tantangan,
bagaimana kita menyikapinya saja. Bisa jadi sangat menyenangkan bagi siapa saja
yang menikmati dan mencintainya, begitupula sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar