Sabtu, 28 Februari 2015

Kuliah sama sekolah beda dek!

Sebagai mahasiswa baru pastinya sangat merasakan perbedaan antara “mahasiswa” dan “siswa”. Mungkin sebagian besar mahasiswa baru mengalami cultural shock, seperti yang telah dipelajari dalam sosiologi suatu kondisi dimana seseorang kaget dengan kebiasaan-kebiasaan baru, mungkin termasuk saya.

Dari awal menjadi mahasiswa kita sudah dituntut untuk mandiri, mulai dari mengurusi administrasi, jadwal perkuliahan, penginputan kartu rencana studi, hingga mencari informasi dan mengikuti segala kegiatan perkuliahan.
Jadwal perkuliahan tentu sangat berbeda dengan jadwal pelajaran pada waktu sekolah. Di perkuliahan jadwal tergantung yang akan kita ambil dan diperkuliahan lebih banyak waktu kosong disela perkuliahan di dalam kelas. Biasanya banyak yang memilih untuk ikut berorganisasi, namun tidak sedikit juga yang suka menjadi kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang).

 Selain itu pergaulan dalam kuliah sangat berbeda, dari ruang lingkup kuliah saja sudah jauh lebih luas di banding sekolah. Di dalam perkuliahan tidak ada yang mengatur seperti halnya di sekolah dimana guru sangat intensif mengawasi siswanya, namun tidak di bangku perkuliahan. “Mahasiswa” sudah dianggap sebagai manusia dewasa yang sudah mengerti akan tanggung jawabnya.

Segala karakter makhluk kampus akan kita temui, mulai dari teman yang malas masuk kelas, mahasiswa yang caper di depan dosen, memanfaatkan teman, menghalalkan segala jalan untuk mendapatkan nilai bagus, tidak sedikit juga kita temui mahasiswa aktifis di luar kelas, dan masih banyak lagi.

Dosen satu sama lain pun memiliki sikap yang tidak lah sama, ada dosen yang asik, ada dosen killer, ada dosen yang sangat rajin setiap pertemuan selalu hadir bagaimanapun kondisi yang sedang terjadi, ada dosen bila berhalangan hadir tidak menghubungi penanggung jawab mata kuliah, tidak sedikit juga dosen yang sangat sibuk bila dihubungi untuk konfirmasi kehadiran saja sangat sulit.

Keobyektifan dosen lebih dibandingkan guru. Bila kita cerdas, aktif dikelas namun ujian kita jatuh maka nilai berpatok hanya pada hasil ujian, namun tidak semua masih ada dosen yang memperhatikan keaktifannya dalam kelas dan mejadikan prioritas  untuk penilaian. Ada juga dosen yang tidak peduli pada absensi, lembaran absensi hanya formalitas semata sebagai syarat boleh tidaknya mengikuti ujian. Dan lain sebagainya.

Bagian staf dan karyawan kampus akan kita temui, dari yang merespon dengan jutek, kurang dapat mengontrol emosi, dan ada juga yang sangat baik.

Kita mengetahui orang tercerdas di jaman sekolah kita dulu, di perkuliahan kita akan mengenal mahasiswa-mahasiswa jauh lebih hebat. Yang dulunya kita kenal ia wah, belum tentu diperkuliahan ia akan se”wah” seperti disekolah. Persaingan diperkuliahan semakin sangat ketat dan kompleks. Namun tidak menjadi masalah jika kamu bisa menjadi diri sendiri.

            Banyak yang bilang kuliah itu tugasnya banyak, ya memang benar. tugas kuliah terus mengalir dan bertambah. Oleh karena itu bagi yang masih sekolah belajar lah berlatih tidak perlu sedikit sedikit mengeluh, terima dan kerjakan saja.. kalau kata saya selagi bisa dikerjakan, kerjakan! tidak perlu ditunda karena sesuatu yang disegerakan bisa menjadi sangat menguntungkan.

            Masih terdapat banyak aspek lain, mungkin hal tersebut secara garis besarnya. Bagi saya dunia perkuliahan memiliki banyak tantangan, bagaimana kita menyikapinya saja. Bisa jadi sangat menyenangkan bagi siapa saja yang menikmati dan mencintainya, begitupula sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar