“Bagaimanapun
baiknya kurikulum yang diajarkan kepada peserta didik, bagaimanapun antisipasi
yang sudah dilakukan pemerintah dalam menanggapi berbagai perubahan, tantangan
untuk meningkatkan mutu peserta didik tak lepas pula dari keberadaan mutu
tenaga pengajar (pendidik)”, seperti itulah yang dikatakan oleh Maringan Sitorus
selaku ketua yayasan KSM dalam buku
Pendidikan Indonesia karya Sintong Silaban.
Saat ini sering
kali kita memperdebatkan persoalan kurikulum, maupun kebijakan pemerintah
terkait dengan Pendidikan Indonesia. Namun kita lupa akan keberadaan guru yang
padahal komponen utama dalam pendidikan. Tidak salah diperlukan kebijakan yang
tepat untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia, namun disamping kita
perlu adanya peningkatan mutu pendidik pada setiap jenjang pendidikan. Tentu saja
dikarenakan pendidik merupakan wahana dalam proses pembelajaran, maka diperlukan
tenaga pendidik yang profesional dibidangnya. Hal ini dapat dilakukan dengan
pengujian kembali terhadap peran dan bobot pengajar lembaga pendidikan pada
setiap jenjangnya.
Sudah sepatutnya
profesi guru harus diuji betul kelayakannya untuk menjadi pendidik yang
professional. Kata professional disini memiliki beragam makna, salah satunya
pendidik bukan hanya sekedar mendidik namun memberikan pembelajaran kepada
peserta didik, serta membangun karakter peserta didik, bukan hanya mencerdaskan
intelektual namun juga mencerdaskan atitute peserta didik. Sebagimana yang
tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar alinea keempat Mencerdaskan kehidupan bangsa.
Disini peran
pendidik sebagai wahana yang menghantarkan peserta didik menuju masa depan yang
cerah. Wahana dalam artian merupakan kendaraan, peran pendidik yang merupakan
fasilitator peserta didik agar tercapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia.
Dengan itu secara tidak langsung membantu pembangunan bangsa. Sebab salah satu
tolak ukur keberhasilan bangsa yaitu pendidikan yang berkualitas.
Namun masalahnya
ada perbedaan yang mendasar antara tenaga pengajar di daerah-daerah dengan
kota-kota besar yang selama ini menjadi salah satu dilema Pendidikan Nasional.
Masalah pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia memang merupakan masalah
yang pelik. Sebab bukan menyaut benda mati, namun manusianya. Tuntutan lembaga
pendidikan untuk lebih dan benar-benar selektif terhadap memilih pengajar
professional, namun juga tidak sepenuhnya menjamin hasil seleksi tes masuk
tanpa adanya latihan sebelum dipercayakan
mengajar para siswanya.
Ketidakmampuan
menciptakan tenaga pengajar yang professional dibidangnya alasan mengapa
pendidik di Indonesia belum dapat maju.
Dalam penerimaaan staf pengajar selama ini mayoritas sarjana lulusan perguruan
tinggi non-keguruan, hanya ada beberapa yang lulusan perguruan tinggi kependidikan.
Oleh karena itu pemerintah kini melakukan kebijakan untuk menjadi seorang
pendidik harus mendapatkan sertifikasi profesi guru yang didapatkan melalui
pendidikan profesi guru selama satu tahun. Namun rupanya hal tersebut belum
cukup menjawab permasalahan mutu yang diperlukan sebagai pendidik.
Menghidupkan
kembali Perguruan Tinggi yang secara khusus mencetak calon pendidik seperti
beberapa tahun silam yang bernama IKIP, itu salah satu cara yang menurut saya
sangat efektif untuk menghasilkan tenaga pengajar yang berkualitas, sebelumnya
persyaratan untuk masuk diperlukan
perhatian lebih kepada peminatan akan profesi guru bisa dengan cara tes minat,
serta melihat kepribadiannya. Sebab guru merupakan contoh dan panutan para
peserta didiknya, untuk itu diperlukan betul pendidik yang berkualitas.
Memang semua
kembali lagi kepada diri pengajar masing-masing, Pendidik setidaknya harus
paham betul akan profesinya. Sering kali kita temukan pengajar namun tidak bisa
memberikan pembelajaran kepada peserta didiknya. Ia bukan tidak cerdas, namun
tidak dapat menyampaikan materi dengan baik sehingga peserta didik tidak
mengerti materi yang telah disampaikan. Bahkan ia pun hanya mengajarkan,
mentransferkan ilmu saja tanpa memberikan waktu untuk memahami apakah peserta
didiknya paham atau tidak apa yang ia sampaikan.
“Memausiakan
Manusia”, itulah tanggapan dari Bapak Dimyati selaku Dosen Landasan Pendidikan
UNJ mengenai pendidikan. Ia mengatakan bahwa pendidikan itu suatu proses
memanusiakan manusia, didalam pendidikan selama proses pembelajaran perlu
adanya kebebasan peserta didik untuk berfikir kritis, peserta didik diberi
waktu untuk berdiskusi, tanya-jawab, serta diperbolehkan menanggapi apa yang
telah disampaikan oleh pendidik. Dengan demikian peserta didik tidak hanya
menerima dan menerima, guru selalu benar, namun peran peserta didik untuk
berpikir kritis diperlukan dalam proses belajar-mengajar.
Pendidikan
sendiri memiliki arti mendidik, mentransferkan ilmu pengetahuan dari pendidik
ke peserta didik, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, memberikan
pembelajaran bukan hanya sekedar mengajar. Disini peran pendidik bukan hanya
mengajarkan sebatas kewajibannya namun peran pendidik untuk berusaha
mengajarkan kepada peserta didik bagaimana dapat paham apa yang disampaikannya,
yang selama ini seringkali disalahartikan antara pengajaran dengan
pembelajaran.
Bukan hanya
sebagai ajang menuntut ilmu, tetapi juga Pendidikan harus dapat membentuk
karakter peserta didik. Membentuk karakter peserta didik memanglah tidak
semudah membalikan telapak tangan, diperlukan proses. Sebab eksistensi suatu
bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimilikinya. Hanya bangsa
yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang
bermartabat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu menjadi
bangsa yang berkarakter adalah salah satu impian bangsa Indonesia.
Kesempatan ada
ditangan kita sendiri, namun bagaimana bisa kita dapat memanfaatkan kesempatan
itu dengan baik. Salah satunya juga kita dapat mencontoh Negara-negara yang
pendidikannya maju. Kita dapat mempelajari kenapa bisa dan mengapa kita belum?!
Peran dari seluruh komponen diperlukan untuk memajukan pendidikan Indonesia
terutama peran dari pendidik sendiri. Pendidikan Indonesia bukan lagi menjadi
persoalan namun menjadi kebanggaan bangsa, belum sekarang namun suatu saat.
Pasti!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar