Sabtu, 28 Februari 2015

Ketika bukti kehadiran ditentukan oleh Selembar Kertas

 6 Januari 2015.

Setelah aku kabar-kabari dengan salah satu pihak panitia softskill FE UNJ, aku segera memberitahu ketua kelasku Gum. Sebelum jam pertemuan Gum dengan pihak panitia softskill, aku terus mengingatkan untuk segera ke ruang cdc untuk mengambil sertifikat softskill agar tepat waktu dan tidak telat karena tidak mudah menghubungi pihak panitianya belum lagi yang membuat hati rada jengkel.

            Prepare ingin jalan bersama kawan lama, di whatsapp grup kelas gum menanyakan apakah suci dan umnia benar tidak masuk? Dodo membantah suci masuk. Liat aja foto disitu jelas suci hadir sebelum pelatihan softskill foto bersama sekelas. Gum pun memberitahu bahwa suci hadir. Namun panitia tidak mau tahu karena suci tidak ada tandatangannya, bila tidak tandatangan dinyatakan “tidak hadir”.    
        
            Aku tentu saja tidak terima, aku benar hadir. Aku jelaskan kepada gum di balasan chat grup maupun personal ternyata aku beneran tidak menandatangani absen. Aku sangat ingat bahwa aku sudah absen, namun ternyata diabsensi aku tidak menandatangani. Aku baru ingat ketika softskill liftnya eror, tandatangan sebelumpintu masuk dan dapat snack sarapan, aku dapet kok tapi kayaknya gak tandatangan semuanya. Ternyata ketika aku tanyakan ada 4 kali tandatangan, dan salah satunya dipegang pihak cdc tepat dilembar absen yang dipegang pihak cdc aku tidak ada tandatangannya. Itulah penyebab aku tidak dibuatkan sertifikat.

            Dengan perasaan sangat kecewa. Memang ini juga merupakan kelalaianku. Namun aku tidak bisa terima kehadiran hanya ditentukan oleh selembar absen. Aku sangat ingat ketika pelatihan softskill mulai pukul 08.00 aku janjian dengan teman sekelas. Pendidikan ekonomi masuk tahap pertama, pukuk 08.00-12.00. Pakaian yang dikenakan adalah batik, tepat softskill besok pra PKMJ EA 2014. Aku mengenakan batik lengan pendek dilapisi baju hangat. Sebelum masuk kami foto dahulu sekelas tepat disamping sergur. Ini foto kami.

Tak terduga!

            Rencana ingin bersenang-senang dengan kawan lama, seketika badmood luar biasa mendengan kabar tersebut, memang apalah arti selembar sertifikat tersebut? Namun aku berteguh untuk mengungkapkan kebenaran bahwa aku mengikuti pelatihan softskill 2014, aku tidak mau dipersulit kedepannya aku pun tidak mau dipaksa untuk ikut lagi tahun depan dengan dikenakan biaya Rp.250.000. Selain itu aku sebenarnya sangat ogah bila harus menghadapi panitia kembali, namun masalah ini harus aku selesaikan dengan sesegera mungkin. Sebelum libur bersama tiba, dan masalah ini berlarut hingga kemungkinan terburuknya akan hilang begitu saja.

            Tidak ada guna saya menjelaskan kejujuran, meminta toleransi atas kelalaian saya dan mencari jalan keluar seadilnya dengan pihak yang mengurusi sertifikat tersebut, tidak ada guna aku memendam rasa amarah. Bingung memikirkan bagaimana bisa pihak panitia bisa menerima kenyataan bahwa aku hadir, dan memaklumi kelalaian aku karena tidak mengisi absensi.

Namun yang tertera dalam absen tepat samping nama tejo, umni disilang kecil, sedangkan aku dicontereng. Aku berpikir mungkin mereka berdua bener tidak hadir jadi tidak absen sama sekali, sedangkan aku ketika didepan pintu masuk aku sempet absen. Tejo memang tidak pernah masuk dan mengikuti kegiatan perkuliahan setelah beberapa bulan terakhir, sedangkan umni memang saat itu tidak terlihat hadir. Difotopun tidak ada. Untuk mamastikan bertanya langsung ke umni, dan betul ia tidak hadir. Hanya aku berarti yang hadir tetapi tidak absen.

Dengan tanda tersebut aku ingin mempertanyakan lebih lanjut. Aku pun bertanya kepada teman-temanku bersedia tidak menjadi sanksi bahwa aku benar hadir. Dengan lugas ketua kelasku bersedia dan berusaha mencari jalan keluar juga, serta partisipasi teman kelasku lainnya. Aku pun terus berpikir, hingga akhirnya aku teringat Kak Dimas Satria. Ketua magenta FE 2014, yaitu ketua pelaksana acara-acara setelah MPA. Aku pun segera menghubungi Kak Dimas.

Sejenak aku lupakan masalah tersebut, aku redamkan rasa kecewaku. Aku bergegas segera menyelesaikan pekerjaan rumah, menjaga keponakan kecilku Citra, dan rapi-rapi selasai semua aku langsung pamitan.

Kak Dimas pun berkata kalau seperti itu hubungi panitia softskill langsung diruang cdc. Panitia bukan pihak dari Bem FE ataupun magenta, namun cdc merupakan lembaga dekanat. Keputusan ada ditangan mereka. Tidak ada cara lain saya harus menghubungi pihak panitia itu kembali. Pikirku entah bisa atau tidak karena pihak panitia cdc bersikap seperti itu, Entahlah. 


Kehadiran ditentukan oleh selembar kertas

Selama satu semester lalu sebagai mahasiswa baru, berbagai acara magenta. Yaitu acara-acara pasca MPA yang diadakan fakultasku. Mulai dari good morning dimana acara tersebut menghadirkan orang-orang hebat agar dapat menginspirasi, PPBI1 PPBI 2 yang merupakan penyampaian materi dari orang-orang hebat serta pelatihan menulis, CFD Gabungan mentoring gabungan buat yang islam, Economic Camping, Softskill, PKMJ, Closing magenta, ataupun acara tidak wajibnya seperti WISE (Wisata Ekonomi Islam) yaitu acara yang diselenggarakan organisasi keislaman fakultasku.

Dari seluruh acara pasti tidak lepas dari selembar absensi. Tidak menutup kemungkinan ketika salah seorang absen sekaligus mengabsen temannya yang tidak hadir. Seperti temanku menitip absen kehadiran salah satu acara magenta hingga akhirnya hanya diketahui bahwa ia hadir, namun tidak ketahuan oleh pihak panitianya. Bagaimana bisa ketahuan jika tidak dicek kehadirannya.

Sudut pandangku mengenai absensi selembar kertas belum akurat sepenuhnya, karena pasti ada saja kecurangan didalamnya.

Selain itu dalam dunia perkuliahan tidak asing lagi dengan kata “nitip absen dong”. Ya memang realitanya hal tersebut sudah menjadi hal biasa dikalangan mahasiswa. Bila malas dengan matakuliahnya, melobby temannya untuk bisa menandatangani absennya sebagai bukti kehadiran.

Sebagian besar dosen keseharian mengajar tidak melihat absensi hanya sesekali dosen mengecek kehadiran satu per satu bahkan tidak mengecek absensi sama sekali seperti dosen mata kuliah pengantar akuntansiku.

Bagi mereka yang menitip absen sebagai bukti kehadiran sebagian besar aman saja. Dan tidak segan mengulanginya ketika ia sedang malas masuk kelas.

Ketidakadilan dirasakan oleh yang benar hadir dengan yang hadir secara absensi saja namun nyatanya tidak hadir. Hanya karena bukti selembar absensi terpenuhi maka semua diperlakukan sama.

            Seharusnya hal ini bisa diantisipasi dengan berbagai hal, setidaknya dengan kecermatan pemegang absen untuk menjaga dan mengecek kehadiran kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar