6 Januari 2015.
Setelah
aku kabar-kabari dengan salah satu pihak panitia softskill FE UNJ, aku segera
memberitahu ketua kelasku Gum. Sebelum jam pertemuan Gum dengan pihak panitia
softskill, aku terus mengingatkan untuk segera ke ruang cdc untuk mengambil
sertifikat softskill agar tepat waktu dan tidak telat karena tidak mudah
menghubungi pihak panitianya belum lagi yang membuat hati rada jengkel.
Prepare ingin jalan bersama kawan lama, di whatsapp grup
kelas gum menanyakan apakah suci dan umnia benar tidak masuk? Dodo membantah
suci masuk. Liat aja foto disitu jelas suci hadir sebelum pelatihan softskill
foto bersama sekelas. Gum pun memberitahu bahwa suci hadir. Namun panitia tidak
mau tahu karena suci tidak ada tandatangannya, bila tidak tandatangan dinyatakan
“tidak hadir”.
Aku tentu saja tidak terima, aku benar hadir. Aku
jelaskan kepada gum di balasan chat grup maupun personal ternyata aku beneran
tidak menandatangani absen. Aku sangat ingat bahwa aku sudah absen, namun
ternyata diabsensi aku tidak menandatangani. Aku baru ingat ketika softskill
liftnya eror, tandatangan sebelumpintu masuk dan dapat snack sarapan, aku dapet
kok tapi kayaknya gak tandatangan semuanya. Ternyata ketika aku tanyakan ada 4
kali tandatangan, dan salah satunya dipegang pihak cdc tepat dilembar absen
yang dipegang pihak cdc aku tidak ada tandatangannya. Itulah penyebab aku tidak
dibuatkan sertifikat.
Dengan perasaan sangat kecewa. Memang ini juga merupakan
kelalaianku. Namun aku tidak bisa terima kehadiran hanya ditentukan oleh
selembar absen. Aku sangat ingat ketika pelatihan softskill mulai pukul 08.00
aku janjian dengan teman sekelas. Pendidikan ekonomi masuk tahap pertama, pukuk
08.00-12.00. Pakaian yang dikenakan adalah batik, tepat softskill besok pra
PKMJ EA 2014. Aku mengenakan batik lengan pendek dilapisi baju hangat. Sebelum
masuk kami foto dahulu sekelas tepat disamping sergur. Ini foto kami.
Tak terduga!
Rencana ingin bersenang-senang dengan kawan lama,
seketika badmood luar biasa mendengan kabar tersebut, memang apalah arti
selembar sertifikat tersebut? Namun aku berteguh untuk mengungkapkan kebenaran
bahwa aku mengikuti pelatihan softskill 2014, aku tidak mau dipersulit
kedepannya aku pun tidak mau dipaksa untuk ikut lagi tahun depan dengan
dikenakan biaya Rp.250.000. Selain itu aku sebenarnya sangat ogah bila harus
menghadapi panitia kembali, namun masalah ini harus aku selesaikan dengan
sesegera mungkin. Sebelum libur bersama tiba, dan masalah ini berlarut hingga
kemungkinan terburuknya akan hilang begitu saja.
Tidak ada guna saya menjelaskan kejujuran, meminta
toleransi atas kelalaian saya dan mencari jalan keluar seadilnya dengan pihak
yang mengurusi sertifikat tersebut, tidak ada guna aku memendam rasa amarah.
Bingung memikirkan bagaimana bisa pihak panitia bisa menerima kenyataan bahwa
aku hadir, dan memaklumi kelalaian aku karena tidak mengisi absensi.
Namun
yang tertera dalam absen tepat samping nama tejo, umni disilang kecil,
sedangkan aku dicontereng. Aku berpikir mungkin mereka berdua bener tidak hadir
jadi tidak absen sama sekali, sedangkan aku ketika didepan pintu masuk aku
sempet absen. Tejo memang tidak pernah masuk dan mengikuti kegiatan perkuliahan
setelah beberapa bulan terakhir, sedangkan umni memang saat itu tidak terlihat
hadir. Difotopun tidak ada. Untuk mamastikan bertanya langsung ke umni, dan
betul ia tidak hadir. Hanya aku berarti yang hadir tetapi tidak absen.
Dengan
tanda tersebut aku ingin mempertanyakan lebih lanjut. Aku pun bertanya kepada
teman-temanku bersedia tidak menjadi sanksi bahwa aku benar hadir. Dengan lugas
ketua kelasku bersedia dan berusaha mencari jalan keluar juga, serta
partisipasi teman kelasku lainnya. Aku pun terus berpikir, hingga akhirnya aku
teringat Kak Dimas Satria. Ketua magenta FE 2014, yaitu ketua pelaksana acara-acara
setelah MPA. Aku pun segera menghubungi Kak Dimas.
Sejenak
aku lupakan masalah tersebut, aku redamkan rasa kecewaku. Aku bergegas segera
menyelesaikan pekerjaan rumah, menjaga keponakan kecilku Citra, dan rapi-rapi
selasai semua aku langsung pamitan.
Kak
Dimas pun berkata kalau seperti itu hubungi panitia softskill langsung diruang
cdc. Panitia bukan pihak dari Bem FE ataupun magenta, namun cdc merupakan
lembaga dekanat. Keputusan ada ditangan mereka. Tidak ada cara lain saya harus
menghubungi pihak panitia itu kembali. Pikirku entah bisa atau tidak karena
pihak panitia cdc bersikap seperti itu, Entahlah.
Kehadiran ditentukan oleh
selembar kertas
Selama
satu semester lalu sebagai mahasiswa baru, berbagai acara magenta. Yaitu
acara-acara pasca MPA yang diadakan fakultasku. Mulai dari good morning dimana
acara tersebut menghadirkan orang-orang hebat agar dapat menginspirasi, PPBI1
PPBI 2 yang merupakan penyampaian materi dari orang-orang hebat serta pelatihan
menulis, CFD Gabungan mentoring gabungan buat yang islam, Economic Camping,
Softskill, PKMJ, Closing magenta, ataupun acara tidak wajibnya seperti WISE
(Wisata Ekonomi Islam) yaitu acara yang diselenggarakan organisasi keislaman
fakultasku.
Dari
seluruh acara pasti tidak lepas dari selembar absensi. Tidak menutup
kemungkinan ketika salah seorang absen sekaligus mengabsen temannya yang tidak
hadir. Seperti temanku menitip absen kehadiran salah satu acara magenta hingga
akhirnya hanya diketahui bahwa ia hadir, namun tidak ketahuan oleh pihak panitianya.
Bagaimana bisa ketahuan jika tidak dicek kehadirannya.
Sudut
pandangku mengenai absensi selembar kertas belum akurat sepenuhnya, karena
pasti ada saja kecurangan didalamnya.
Selain
itu dalam dunia perkuliahan tidak asing lagi dengan kata “nitip absen dong”. Ya
memang realitanya hal tersebut sudah menjadi hal biasa dikalangan mahasiswa.
Bila malas dengan matakuliahnya, melobby temannya untuk bisa menandatangani
absennya sebagai bukti kehadiran.
Sebagian
besar dosen keseharian mengajar tidak melihat absensi hanya sesekali dosen mengecek
kehadiran satu per satu bahkan tidak mengecek absensi sama sekali seperti dosen
mata kuliah pengantar akuntansiku.
Bagi
mereka yang menitip absen sebagai bukti kehadiran sebagian besar aman saja. Dan
tidak segan mengulanginya ketika ia sedang malas masuk kelas.
Ketidakadilan
dirasakan oleh yang benar hadir dengan yang hadir secara absensi saja namun
nyatanya tidak hadir. Hanya karena bukti selembar absensi terpenuhi maka semua
diperlakukan sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar