Saya bersyukur bisa lahir ke dunia ini berkat ibu saya
yang sangat luar biasa, 9 juli 1996 tengah malam saya dilahirkan secara sesar di
sebuah rumah sakit di kawasan pusat kota jakarta tetapi ternyata Allah
berkendak lain ibu kandung saya tidak dapat terselamatkan. Tepat memasuki
tanggal 10 Juli ibu kandungku sudah tiada.
Dimana kelahiranku ditunggu dengan gembira namun pada
saat itu juga terlinang air mata, seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi
anaknya. Duka menyelimuti keluargaku, terutama ayah dan kakakku yang pada saat
itu baru berumur 3 tahun. Namun apa daya kehendak Allah seperti ini, semua
harus bisa mengikhlaskan.
Ayah dan kakakku pindah rumah ke bekasi, sedangkan aku
diasuh oleh bibi ibuku yaitu nenekku beserta suaminya, kakekku. Aku biasa
memanggilnya dengan sebutan emak dan Alm.Bapak.
Emak sangat menginginkan memiliki anak perempuan namun
kedua anaknya laki-laki. Emak dan Bapak pun memutuskan untuk mengangkat saya
sebagai anaknya. Betapa bahagianya Emak bisa memiliki anak perempuan, walau bukan
anak hasil rahimnya. Emak merawat, membesarkanku dengan penuh kasih sayang juga
mendidikku, memenuhi segala kebutuhanku sejak aku lahir kedunia ini hingga
kini.
Aku seringkali menjengkelkan Emak, namun Emak selalu
sabar menghadapiku, tidak ada kekerasan yang dilakukan hanyalah ketulusan hati
seorang Ibu yang begitu tulus. Begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan Emak
semuanya dilakukan tanpa pamrih, tanpa menuntut apapun dariku.
Hangatnya belaian kasih sayang aku rasakan dalam
kesederhanaan, kelembutan hati seorang Ibu mengalir dalam diri Emak. Emak tidak
pernah membeda-bedakan anaknya tidak terkecuali aku, yang bukan anak
kandungnya.
Ibu rumah tangga merupakan pekerjaan Emak sehari-hari di rumah,
waktu dihabiskan total untuk keluarga. Sehingga kami sama sekali tidak pernah
merasakan kurang perhatian.
Begitu perhatian Emak kepada anak-anaknya, hingga sering
kali kami menyebutnya dengan kata “cerewet”. Hingga kami semua sudah dewasa
Emak pun masih terus memerhatikan, memproteksi terutama aku anak perempuan.
Kami sering kali merasa sedikit kesal namun sebenarnya kami sadar bahwa rasa
kekhawatiran tersebut sangat kuat dalam diri seorang Ibu. Emak juga seringkali
berkata, “kalau telat kabari walau hanya semenit saja agar yang dirumah
tenang.”
Emak mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan. Dan yang
paling aku ingat emak selalu mengajarkan kepada kami, walau bagaimanapun orang
jahat kepada kita jangan pernah kita membalas kejahatan orang tersebut.
Tetaplah berbuat baik. Kejahatan dibalas kejahatan maka kamu sama jahatnya,
namun bila kejahatan terus kamu balas dengan kebaikan lambat laur ia juga akan
sadar.
Obrolan santai kerap kali terjalin di ruang keluarga,
hingga kata-kata terlontar untuk mengarahkan kami kedepannya, nasihat terus
diajarkan kepada kami.
Sejak kecil kami didik Emak, ditanamkan nilai keagamaan,
diajarkan mengaji, disekolahkan hingga diberi kesempatan untuk belajar tambahan
diluar sekolah demi mendukung prestasi di sekolah. Pendidikan anak-anaknya
merupakan prioritas Emak. Namun Emak tidak pernah memaksakan, semua tergantung
kehendak kami.
Hasanah dari seorang Emak semakin aku dewasa kini, aku
semakin paham. Emak yang juga merupakan teladan bagiku, panutan ku seorang yang
sangat luar biasa, kata-kata tidak cukup menjelaskan bagaimana yang selama ini
Emak lakukan terhadap kami, terutama diriku.
Aku sangat bersyukur masih bisa merasakan kasih sayang
seorang Ibu yang aku dapatkan dari Emak, tidak akan pernah sanggup aku membalas
semuanya tidak ternilai dan tidak dapat diukur dengan apapun.
Aku hanya bisa terus berharap dan mengusahakan, Emak
terus ada di sampingku dengan kebahagiaan. Hingga akhirnya emak dapat merasakan
kesuksesanku kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar