Sabtu, 28 Februari 2015

Hasanah dari Seorang Ibu

            Saya bersyukur bisa lahir ke dunia ini berkat ibu saya yang sangat luar biasa, 9 juli 1996 tengah malam saya dilahirkan secara sesar di sebuah rumah sakit di kawasan pusat kota jakarta tetapi ternyata Allah berkendak lain ibu kandung saya tidak dapat terselamatkan. Tepat memasuki tanggal 10 Juli ibu kandungku sudah tiada.

            Dimana kelahiranku ditunggu dengan gembira namun pada saat itu juga terlinang air mata, seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi anaknya. Duka menyelimuti keluargaku, terutama ayah dan kakakku yang pada saat itu baru berumur 3 tahun. Namun apa daya kehendak Allah seperti ini, semua harus bisa mengikhlaskan.

             Ayah dan kakakku pindah rumah ke bekasi, sedangkan aku diasuh oleh bibi ibuku yaitu nenekku beserta suaminya, kakekku. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan emak dan Alm.Bapak.

              Emak sangat menginginkan memiliki anak perempuan namun kedua anaknya laki-laki. Emak dan Bapak pun memutuskan untuk mengangkat saya sebagai anaknya. Betapa bahagianya Emak bisa memiliki anak perempuan, walau bukan anak hasil rahimnya. Emak merawat, membesarkanku dengan penuh kasih sayang juga mendidikku, memenuhi segala kebutuhanku sejak aku lahir kedunia ini hingga kini.

             Aku seringkali menjengkelkan Emak, namun Emak selalu sabar menghadapiku, tidak ada kekerasan yang dilakukan hanyalah ketulusan hati seorang Ibu yang begitu tulus. Begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan Emak semuanya dilakukan tanpa pamrih, tanpa menuntut apapun dariku.

             Hangatnya belaian kasih sayang aku rasakan dalam kesederhanaan, kelembutan hati seorang Ibu mengalir dalam diri Emak. Emak tidak pernah membeda-bedakan anaknya tidak terkecuali aku, yang bukan anak kandungnya.

             Ibu rumah tangga merupakan pekerjaan Emak sehari-hari di rumah, waktu dihabiskan total untuk keluarga. Sehingga kami sama sekali tidak pernah merasakan kurang perhatian.

           Begitu perhatian Emak kepada anak-anaknya, hingga sering kali kami menyebutnya dengan kata “cerewet”. Hingga kami semua sudah dewasa Emak pun masih terus memerhatikan, memproteksi terutama aku anak perempuan. Kami sering kali merasa sedikit kesal namun sebenarnya kami sadar bahwa rasa kekhawatiran tersebut sangat kuat dalam diri seorang Ibu. Emak juga seringkali berkata, “kalau telat kabari walau hanya semenit saja agar yang dirumah tenang.”

             Emak mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan. Dan yang paling aku ingat emak selalu mengajarkan kepada kami, walau bagaimanapun orang jahat kepada kita jangan pernah kita membalas kejahatan orang tersebut. Tetaplah berbuat baik. Kejahatan dibalas kejahatan maka kamu sama jahatnya, namun bila kejahatan terus kamu balas dengan kebaikan lambat laur ia juga akan sadar.

          Obrolan santai kerap kali terjalin di ruang keluarga, hingga kata-kata terlontar untuk mengarahkan kami kedepannya, nasihat terus diajarkan kepada kami.

      Sejak kecil kami didik Emak, ditanamkan nilai keagamaan, diajarkan mengaji, disekolahkan hingga diberi kesempatan untuk belajar tambahan diluar sekolah demi mendukung prestasi di sekolah. Pendidikan anak-anaknya merupakan prioritas Emak. Namun Emak tidak pernah memaksakan, semua tergantung kehendak kami.

           Hasanah dari seorang Emak semakin aku dewasa kini, aku semakin paham. Emak yang juga merupakan teladan bagiku, panutan ku seorang yang sangat luar biasa, kata-kata tidak cukup menjelaskan bagaimana yang selama ini Emak lakukan terhadap kami, terutama diriku.

         Aku sangat bersyukur masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu yang aku dapatkan dari Emak, tidak akan pernah sanggup aku membalas semuanya tidak ternilai dan tidak dapat diukur dengan apapun.

         Aku hanya bisa terus berharap dan mengusahakan, Emak terus ada di sampingku dengan kebahagiaan. Hingga akhirnya emak dapat merasakan kesuksesanku kelak.

           

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar